Rabu, 10 Maret 2010
 

[ Minggu, 07 Maret 2010 ]
Mereka Mendampingi Orang dengan HIV/AIDS
Orang-orang ini melakukan sesuatu yang tak semua orang mau dan mampu. Yakni, mendampingi orang-orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Bersama mereka, para penyandang ODHA punya seseorang untuk berbagi melawan sakit dan stigma.

---

''WONG lara, ndang padha turua (wahai orang sakit, bergegaslah tidur, Red)''. Seuntai kalimat itu melantun dari bibir Yenny di Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi (UPIPI) RSUD dr Soetomo, Kamis (4/3).

Seperti nama pemilik lantunan, kalimat tersebut berlagu dengan lembut mengarungi cengkok pentatonis Jawa. Yenny pun bergaya dengan kenes. Bak waranggono nan gemulai di sisi kelir (layar) ki dalang.

Tembang itu memang salah satu amunisi Yenny kala bertugas sebagai pendamping ODHA di UPIPI RSUD dr Soetomo. ''Kalau pasien nggak tenang pas malem gitu, kadang aku masuk kamar, terus aku nyanyi begitu,'' kata Yenny. Gayanya tetap kenes. Namun, suaranya menjadi berat. Khas pria.

Ya, Yenny memang waria. Di UPIPI, orang akan lebih sering menemuinya dalam penampilan pria. Badannya yang cukup kekar kerap terlihat dalam balutan celana pendek dan kaus. Rambut keritingnya yang sebahu selalu diikat rapi.

Dalam KTP dan kartu identitas lain yang dibawa Yenny, tercantum nama seorang pria: Jinal. Nama itulah yang diberikan orang tuanya ketika Yenny lahir di Lamongan pada 9 Mei 1965 silam. Di luar UPIPI pun, dia masih dipanggil Jinal, atau kadang Mama. ''Yenny itu baru panggilan di sini (UPIPI, Red). Yang manggil ya perawat-perawat itu awalnya,'' katanya.

Interaksi Yenny dan para staf UPIPI serta RSUD dr Soetomo memang cukup intens. Ketika diwawancarai Jawa Pos, Yenny terlihat akrab dengan hampir semua orang. Mulai perawat, relawan, dokter, petugas rumah sakit, hingga keluarga pasien. Maklum, sejak sekitar tahun 2005, selama 24 jam setiap hari Yenny hampir selalu standby di UPIPI.

Awalnya, Yenny juga salah seorang pasien UPIPI. Sejak akhir 1999, dia memang diketahui mengidap HIV. Buka-bukaan, dia mengaku tertular penyakit itu lewat jalur free sex. Sejak pertengahan 1980-an, saat malam Minggu, dia memang kadang mangkal di kawasan pemakaman Kembang Kuning atau Pasar Turi. Siangnya, dia bekerja di sebuah pabrik di kawasan Tandes.

''Waktu itu sebenernya memang antara butuh dan memang seneng. Nggak apa-apa. Habis mangkal kan besoknya libur. Kadang ada juga yang ngajak keluar kalau hari biasa. Tapi, itu dulu. Sejak sakit ini sudah nggak,'' paparnya.

Namun, virus HIV dalam tubuh Yenny lambat laun diketahui orang. Penyakit itu pula yang membuat dirinya di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Sekitar 2004, LSM Hotline menawarinya pekerjaan sebagai pendamping ODHA. Jabatan resminya adalah manajer kasus.

Dia ditempatkan di UPIPI RSUD dr Soetomo dan digaji setiap bulan. Dia juga mendapatkan penghasilan tambahan jika ada keluarga pasien yang berhalangan jaga dan minta tolong untuk menunggui pasien.

Penghasilan tambahan yang didapatkan terhitung lumayan. Jika menunggu setengah hari, keluarga pasien kadang memberinya Rp 50 ribu. Jika dimintai tolong berjaga selama 24 jam, kadang dia memperoleh hingga Rp 100 ribu.

Wajar jika upah yang dia peroleh cukup besar. Sebab, tugas yang diemban memang lumayan berat. Dia harus terus berjaga di samping pasien. Sebab, pasien AIDS, terutama yang sudah berstadium tinggi, cenderung rewel. Terutama untuk pasien-pasien yang memang pada dasarnya manja.

Saat berjaga, Yenny harus benar-benar mengawasi dan memenuhi kebutuhan si pasien. Mulai yang simpel, seperti mengingatkan untuk minum obat atau mengambilkan minum, sampai yang berat seperti mengganti pampers pasien. ODHA berstadium tinggi memang lazimnya terkena diare hebat.

Karena itu, Yenny tak berani jauh-jauh dari pasien. Kalau berjaga, dia menggelar tikar di samping tempat tidur pasien. Tak jarang, saat jaga malam, dia merem sambil duduk dan bersandar di tempat tidur pasien. ''Makanya, aku cuma mau jaga satu pasien. Kecuali kalau pasiennya satu ruangan,'' ungkap bungsu di antara dua bersaudara itu.

Saat sedang tak ada tugas khusus, dia juga kerap membantu perawat di UPIPI untuk mengganti pampers atau mengingatkan pasien agar minum obat. Tapi, itu juga baru bisa dia lakukan ketika perawat memintanya masuk ruangan. Karena bukan staf RS, Yenny memang tak bisa bebas keluar masuk kamar pasien.

Jika ada pasien atau keluarga yang belum bisa menerima penyakitnya, tugas Yenny pun berlipat ganda. Dia juga harus membuka hati pasien dan keluarganya. ''Nek gak gelem nrimo, susah. Nek wes ngono ojo ditinggal. Kudu dicedeki ben dino (kalau tidak mau menerima, susah. Kalau sudah begitu, tidak boleh ditinggal. Harus didekati setiap hari, Red),'' ungkapnya.

Untuk mendekati pasien atau keluarga yang seperti itu, Yenny mengaku tak punya trik khusus. Kepada pasien, dia hanya berusaha untuk lebih sering menyapa. Misalnya, setiap pagi, dia berusaha mengucapkan selamat pagi kepada si pasien. Jika itu terus dilakukan, kata dia, lama-kelamaan pasien akan mau terbuka untuk menerima dirinya atau staf UPIPI yang lain sebagai pendamping.

Untuk keluarga, pendekatan yang dilakukan Yenny berbeda. Dia memulai dengan mengajak ngobrol, saat si keluarga berada di luar ruang perawatan. Namun, ada pula keluarga yang tetap tak mau terbuka. Kalau ditanya apa penyakit anaknya, mereka menjawab sakit TBC atau penyakit lain yang menjadi infeksi tumpangan.

''Ada yang sengaja menyembunyikan, ada juga yang memang betul-betul tidak tahu. Sampai anak atau saudaranya meninggal, mereka tahunya penyakit anaknya ya TBC atau yang lain itu. Bukan AIDS,'' ujarnya.

Saat dirawat di RS, kata Yenny, para penderita AIDS juga relatif mudah stres. Penyebab utamanya, lantaran tertekan dengan penyakitnya. Tak jarang, ada pasien yang berusaha lari dari UPIPI. Ada pula yang tertekan, sehingga tidak mau makan atau minum obat.

Karena itu, selain pendampingan, Yenny selalu berusaha menghibur pasien. Caranya, antara lain, mengajak ngobrol. Kadang, dia juga memutarkan musik di ruang perawatan. ''Tak setelno tip, terus aku njoget. Kadang yo nyanyi (Aku putarkan tape, terus aku menari. Kadang juga menyanyi, Red),'' ungkapnya.

Sampai kapan ingin jadi pendamping ODHA? Ditanya seperti itu, Yenny mengaku belum tahu. ''Belum ada yang menawari pekerjaan lain. Sementara ini, ya di sini dulu saja,'' katanya. (rum/dos)